Wakil Ketua MPR Menyatakan Bahwa Membutuhkan Landasan yang Sangat Kuat untuk Menghadapi Tantangan Kebangsaan 

Berita Terlengkap Dan Terpercaya By PAGIASIA – E.E Mangindaan selaku Wakil Ketua MPR mengatakan masih terdapat beberapa tantangan dalam mempertahankan kebangsaan yang nantinya harus dihadapi. Untuk dapat menyikapinya, dibutuhkan sebuah landasan yang sangat kuat salah satunya adalah melalui empat pilar MPR RI.
Wakil Ketua MPR Menyatakan Bahwa Membutuhkan Landasan yang Sangat Kuat untuk Menghadapi Tantangan Kebangsaan
Wakil Ketua MPR Menyatakan Bahwa Membutuhkan Landasan yang Sangat Kuat untuk Menghadapi Tantangan Kebangsaan 
Dalam isi dari keempat pilar MPR RI yang sudah dijelaskan sebelumnya oleh Mangindaan yaitu mengenai Pancasila sebagai sebuah dasar dan juga ideologi negara, UUD Negara RI Tahun 1945 yang sebagai sebuah konstitusi negara serta ketetapan dari MPR RI, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai sebuah bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara Indonesia.

Mangindaan juga menyampaikan bahwa masih ada sejumlah sikap fanatisme dari kedaerahan yang menjadikan salah satu tantangan bagi kebangsaan. Yang terutama adalah sikap tersebut yang akan muncul ketika pemilihan dalam kepala daerah. Ia juga mengatakan hal tersebut dapat mengganggu dasar kebhinnekaan bangsa ini.


“Contohnya kita sedang pergi ke suatu daerah, dan seorang pemimpin yang berasal dari daerah A diharuskan menjadi seorang pemimpin di daerah tersebut. Bupati A diharuskan dari daerah A juga. Hal ini dapat mengganggu dasar kebhinnekaan kita semua. kemudian Premodialisme pun muncul,” kata Mangindaan dalam acara sosialisasi empat pilar MPR RI yang dilaksanakan di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, pada hari Kamis,8 Desember 2016.

“Sebab itulah kita semua sangat perlu untuk dapat memahami dengan benar mengenai arti dari Kebhinnekaan Tunggal Ika dalam negara kita,” lanjutnya. Selain fanatisme yang berada di kedaerahan yang kerap masih terjadi di Indonesia, tantangan lainnya dalam mempertahankan kebangsaan yang sudah dijelaskan oleh Mangindaan yaitu mengenai kesenjangan sosial, kemiskinan dan juga pengangguran.

Ia juga bercerita pada saat dirinya mengunjungi suatu daerah yang ada di Indonesia, terdapat seorang warga yang sedang mengeluhkan keadaan mereka dalam kondisi serba kekurangan sehingga sangat sulit untuk dapat memaknai nilai-nilai di dalam Pancasila.

“Saya pernah ke suatu daerah. Kita jelaskan Pancasila panjang lebar. Ada salah satu yang bilang ‘Pak kalau orang miskin masih bisa mikir Pancasila enggak?’ Terus saya tanya, kamu masih Indonesia enggak? Dia jawab masih. Kalau begitu kamu masih bagian dari Pancasila. Soal kemiskinan ini perlu kita atasi bersama,” terangnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here