Review Novel Serendipity Hasil Karya Erisca Febriani

Dulunya, Arkan dan Rani adalah sepasang kekasih. Tiba-tiba di sebuah taman kota, Arkan mengikrarkan bahwa mereka harus berpisah. (Serendipity)

Dua bulan telah berlalu. Sekarang, meskipun mereka satu kelas, Arkan tidak pernah lagi menyapanya. Kadang, memang selucu itu; mereka yang dulunya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang apa pun, kini bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan ‘hai’ atau ‘selamat pagi’.

Rani tahu Arkan membencinya. Rani tahu ini kesalahannya. Tapi Arkan seharusnya mendukungnya. Dia sedang berusaha bertahan hidup.

Dengan segala kemampuannya, dengan segala perisai dan kekuatannya, Rani berusaha bertahan dan berdiri tegak.

Pertama aku baca bab awal, aku langsung dibuat tercengang. Erisca membuka bab pertamanya dengan “kejutan.” Awalnya, memang sempat terkecok. Dan menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Arkan dan Rani.

(Kita putus). [Page 11]

Arkan memutuskan hubungannya dengan Rani di sebuah taman kota. Rani bingung, kenapa Arkan mengikrarkan kalimat itu.

Hari demi hari dilalui Rani. Arkan semakin membencinya, begitupun teman sekelasnya yang membullynya habis-habisan.Atau bahkan, sahabatnya sekalipun ikut serta dengan mereka-mereka yang menghujatnya. Tapi, di sini Rani tetap tegar melewati itu.

Aku salut banget sama tokoh Rani. Dia itu wanita behati baja, apa gimana ya? Kesabarannya Rani, patut diacungi jempol deh pokoknya!

Hidup ini seperti roda pedati, kadang di atas kadang di bawah. [Page 33]

Selain dibenci oleh teman-temannya danjuga Arkan, masalah demi masalah terus menerus menerjang hidup Rani. Tapi Rani masih tetap tegar dan berdiri tegak.

Tuh, kan, lagi-lagi Rani gak menghiraukannya. Kalo aku di posisinya, udah pasti gak bakal tahan, deh. Tapi Rani ini beda. Benar-benar beda.

Lo tahu teori efek kupu-kupu? Gue yakin orang sebego lo pasti nggak pernah dengar dan baca itu. Teori kupu-kupu bilang bahwa kepak sayap kupu-kupu di sebuah tempat dapat mengakibatkan badai di tempat lain yang berjauhan. Lo nggak tahu, kan, apa yang lo atau orang terdekat lo lakukan, dan mengakibatkan hal buruk terjadi pada orang lain. Lo nggak tahu, Rani. [Page 136]

Yadu, si Arkan ini emang bener-bener deh. Dia itu manusia es yang genius yang punya kata-kata super ‘wah’. Tiap kalimat yang dia lontarkan setiap bicara dengan Rani selalu menyakitinya. Padahal dulu, mereka pernah sedekat nadi sebelum jauh dan saling membenci.

Aku geram banget sama tokoh Arkan. Dia itu gak mau dengar penjelasan dari Rani soal ‘penyebab’ putusnya hubungan mereka. Rasanya, mau banget mencabik-cabik mukanya Arkan. Ugh.

Tapi di sisi lain, Erisca memunculkan tokoh baru yang gak kalah keren dari Arkan. Ya sebelas-dua belas, lah.

Gibran.

Dia datang disaat yang tepat banget.

Dan dia juga satu-satunya orang yang mau berteman dengan Rani selepas teman-temannya membencinya. Kayak semacam pahlawannya Rani. HEHE.

So, sejauh ini aku asyik banget baca novel ini. Alurnya gak brtele-tele dan tema yang diangkat Erisca ini lebih greget dari buku pertamanya.

(Gue suka sama lo). [Page 183]

DUAR!!! GIBRAN NYATAIN PERASAANNYA GENGS. CATET.

Kira-kira, Rani nerima cinta Gibran atau gak ya? Hmm….

Sumpah, aku bacanya itu dag-dig-dug banget. Gibran bener-bener keren dan keren, melebihi kerennya Arkan.

Nyerah bukan berarti kalah, kan? Tapi karena gue sadar, ada hal-hal yang nggak bisa gue paksain untuk jadi milik gue. [Pege 393]

Kalian penasaran sama kelanjutan cerita Rani-Gibran-Arkan?

Yuk, baca bukunya, dan cari tahu konflik yang terjadi diantara mereka. Yang pastinya, bikin emosi memuncak.

Overall, aku suka banget novel ini. Dan pastinya sangat rekomendasi banget buat kalian-kalian. Aku kasih 4,5 bintang dari 5 untuk novel ini. Patut banget diacungi jempol buat karya Erisca yang satu ini.

Oh iya, sepertinya Erisca suka banget ya pake filosofi gitu. Bikin cerita ini makin menarik. Penyampaiannya pun tidak berat dan banyak sekali pesan moral yang dapat di ambil di dalamnya.

Hidup lah seperti bunga dandelion. Dandelion tidak secantik mawar, tidak secantik lili, tidak seabadi edelwis. Dandelion tidak memiliki mahkota yang membuatnya tampak menarik. Dandelion juga tidak sewangi melati. Tapi dandelion adalah bunga paling kuat. Dia tetap bisa tumbuh di antara rerumputan liar, di celah batuh. Dandelion terlihat rapuh, tapi begitu kuat, begitu indah, begitu berani. Berani menentang sang angina, terbang tinggi, begitu tinggi…. Menjelajah angkasa sampai akhirnya tiba di suatu tempat untuk dapat tumbuh membentuk kehidupan baru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here