Review Novel Laskar Pelangi Hasil Karya Andrea Hirata

Kami sangat menyukai pelangi, bagi kami pelangi adalah luskisan alam, sketsa tuhan yang mengandung daya Tarik mencengangkan. Tidak tahu siapa di antara yang pertama kali memulai hobi ini, tapi jika musim hujan tiba kami tidak sabar menunggu kehadiran lukisan langit yang menakjubkan itu. Karena keragaman kolektif terhadap pelangi maka Bu Mus menamai kelompok kami Laskar Pelangi (hal. 160).

Masa kecil selalu lah indah untuk kita kenang, tanpa di sadari apa yang kita alami di masa kecil akan membentuk kita pada hari ini. Apa yang kita lakukan hari ini, bagaimana cara pandang hidup kita terhadap hidup ini, semua terbentuk saat masa kecil. Novel ini diangkat dari mamoar masa kecil penulisnya – Amdrea Hirata – atau tokoh ikal dalam novel ini yang dengan apik mengolah pengalaman masa kecilnya bersama lascar pelangi menjadi suatu novel yang memikat dan menyentuh secara emosional bagi siapapun yang membacanya. Lascar pelangi bertutur tentang petualangan kesebelas anak kampong melayu belitong yang hidup dalam kemelaratan.

Mereka secara tidak sengaja dipersatukan ketika sama-sama memasuki bangku sekolah di kampungnya. Novel ini diawali dengan kisah dramatis penerimaan murid baru di sekolah miskin SD Muhammadiyah yang merupakan satu-satunya sekolah yang ada di kampung tersebut. Sebuah sekolah yang terpinggirkan dan hampir saja ditutup jika tidak memenuhi kuota menerima 10 orang murid SD di tahun ajaran pertamanya.

Pada detik-detik terakhir menjelang batas waktu penerimaan murid baru usai kuota itu belum juga terpenuhi, para guru dan calon murid yang menunggunya sudah siap menelan kekecewaan tidak bisa bersekolah karena sekolahnya akan di tutup. Untunglah di detik-detik terakhir muncul seorang calon murid yang memungkinkan sekolah tersebut bisa terus berjalan. Kesepuluh anak inilah yang merupakan cikal-bakal terbentuknya Laskar Pelangi.

Sembilan tahun bersama-sama (6 tahun SD dan 3 tahun SMP) dalam kelas dan bangku yang sama membuat ikatan persahabatan di antara mereka semakin erat, begitu pun ikatan dengan guru dan sekolahnya yang membuat mereka saling melengkapi dan dengan kreativitasnya masing-masing membela dan memperjuangkan sekolah mereka dari pandangan rendah sekolah-sekolah lain di luar kampong mereka yang telah mapan.

Kerangaman karakter Laskar Pelangi yang terjaga kekonsistenannya hingga akhir cerita membuat alur cerita dalam novel ini semakin menarik. Sebuat saja tokoh Lintang si super jenius, Mahar sang seniman, Flo anak tomboy gedongan yang memutuskan untuk bergabung dengan Laskar Pelangi, Sahara gadis yang judes, kucai yang bercita-cita jadi politikus, Samson yang perkasa, Syahdan yang ingin jadi actor Akiong yang pengugup, Harun anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa, Trapani, pria yang tampan dan lembut, Borek si pengacau, dan Ikal si pemimpi yang merupakan tokoh yang bercerita dalam novel ini.

Memang tidak semua anggota Laskar Pelangi mendapat porsi yang sama kemunculannya dalam novel ini, selain Ikal si pencerita tokoh Lintang mendapat porsi yang cukup banyak. Lintang si anak kuli kopra yang jenius yang harus bersepeda sejauh 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu membuat pembaca novel ini termotivasi semangatnya untuk terus mengejar ilmu tanpa menyerah. Berkat kejeniusannya Lintang kelak akan mengharumkan nama sekolahnya dalam lomba cerdas cermat yang di ikuti oleh sekolah-sekolah terkenal di sekitar kampungnya.

Lalunya ada tokoh Mahar seorang anak yang imajinatif, kreatif yang walaupun sering mendapat ejekan dari temen-temennya namun berhasil mengangkat derajat sekolahnya dalam carnival 17 Agustus. Selain itu kesembilan orang Laskar Pelangi yang lain pun dalam novel ini di kisahkan begitu bersemangat dan berjuang dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita.

Keseluruhan kisah dari Laskar Pelangi ini tersaji dengan sangat memikat. Pembaca akan di buat tercenung, menangis dan tertawa bersama kepolosan dan semangat juang para Laskar Pelangi. Tetapi tidak hanya itu saja, novel ini juga akan sangat berpotensi untuk memperluas wawasan pembacanya. Deskripsi lingkungan kampong melayu Belitong yang di deskripsikan secara jelas dan memikat membuat pembaca novel ini akan mengetahui kondisi lingkungan dan kondisi social budaya masyarakat kampong melayu belitong yang hidup di bawah garis kemiskinan yang ironisnya ternyata hidup berdampingan dengan komunitas masyarakat gedong PN Timah yang hidup dengan segala kemewahan dan fasilitas yang lebih dari cukup.

Novel ini juga memuat glossarium lebih dari serratus entri yang sebagian besar berisi entri nama-nama latin tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral yang ada dalam perut bumi, makanan, istilah ekonomi, budaya dan lainnya. Dari segi alur cerita novel ini sepertinya akan memikat pembacanya untuk segera menyelesaikan novel inspiratif ini. Kalimat-kalimatnya enak di baca dan mengalir secara lancar.

Namun dalam kemunculan nama-nama latin dari tumbuh-tumbuhan sepertinya akan membuat kelancaran membaca novel ini akan mejadi sedikit tersedat. Selain itu eksplorasi tokoh lintang yang jenius di saar berdebat dengan seorang guru dari kota pada saat lomba cerdas cermat terasa tidak logis bagi seorang anak SMP karena di bagian ini lintang dengan fasih memaparkan prinsip-prinsip optic Descrates, Newton, sampai Hooke.

Tetapi karena ini adalah kisah di kemas dalam bentuk fiksi maka batas antara fakta dan fiksi kiranya tidak perlu di perdebatkan. Pada intinya novel lascar pelangi menyampaikan pesan mulia bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan bukan tidak mungkin sebuah sekolah kecil dengan segala keterbatasannya ternyata mampu melahirkan kreativitas-kreativitas yang melampaui sekolah-sekolah favorit yang telah mapan baik dari segi fisik maupun pengajarannya.

Selain itu kehadiran novellaskar pelangi ini setidaknya akan membuktikan bahwa penulis local mampu menghasilkan sebuah novel yang menggugah dan inspiratif yang selama ini sepertinya di dominasi oleh penulis-penulis asing.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here