Review Novel Garis Waktu Hasil Karya Fiersa Besari

Fiersa Besari merupakan salah satu penulis novel yang juga merupakan musisi di Indonesia. Adalah Kerabat Kerja X Fiersa Besari merupakan nama dari band tersebut. Nah, sebenarnya berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari internet, buku pertamanya sudah pernah beredar namun dengan sampul yang berbeda dan belum tersebar atau begitu terkenal. Namun, setelah beergabung dengan penerbit mediakita buku Fiersa akhirnya menjadi terkenal dan kalau bisa dibilang masih menjadi buku terpopuler di Indonesia.

Buku Garis Waktu merupakan buku karya pertama Fiersa yang terbit dengan sampul baru berwarna putih pada tahun 2016. Secara cover, ini tentu menarik yah bagi saya. Warna putih dan ada tambahan gambar foto-foto polaroid yang digantung sepertinya sudah cukup mewakili kata (waktu).

Kedua, bagi saya as a person buku ini begitu dekat dan intim dengan pembaca. Tulisannya seolah-olah merupakan hasil pemikiran dan juga jalan cerita yang sebenarnya juga terjadi dengan penulis. Semuanya terasa begitu mengalir. Saya juga menyukai bagaimana si tokoh utama menceritakan cara dia jatuh cinta dan mencintai tokoh wanita dalam buku ini. Sederhana dan mengigit. Seolah-olah dia bukan hanya menawarkan satu bumi tapi satu semesta. Sehingga muncul pemikiran “gila, gue juga pengen diginiin sama cowok”.

Ketiga, bukan hanya soal cinta saja. Dalam buku ini kita bisa melihat sudut pandang si tokoh utama menceritakan mengenai hubungannya dengan keluarga, orang yang dicintai, apa yang di suka, lingkungan , kehidupan dan masyarakat. Jadi semuanya bercampur aduk tapi tersusun. Soal penyusunan ini tentu saja menarik menurut saya, semua tulisan yang ada dalam buku ini disusun berdasarkan bulan dan tahunnya sehingga rasa mengalir itu sepertinya hadir tanpa disadari.

Keempat, buku ini juga seperti mengajarkan bahwa tulisan yang baik dan benar itu memang diperlukan. Namun, tidak pernah ada batasan yang pasti mengenai kata indah dan kata biasa saja. Semua kalimat bahkan kata menjadi begitu indah, tergantung pada kejujuran dalam setiap kalimat yang dibuat. Maksudnya jika si tokoh pertama berhasil meceritakan segala sesuatunya menjadi begitu intim itu karena ada selipan perasaan dalam setiap kata yang dibuat. Walaupun ada beberapa kalimat yang berhasil membuat saya harus membacanya beberapa kali. Well, lupakan itu. Bukannya tugas kita sebagai pembaca adalah berusaha untuk megerti sudut pandang si penulis kan? Iya begitu.

Kelima, pesan moral dalam buku ini adalah luka dalam hati seseorang sebenarnya bisa saja sembuh. Ini hanya soal apakah kita siap untuk menjadi sembuh dan memaafkan keadaan. Mengobati diri sendiri dan berusaha untuk tidak membuat luka baru.

Nah temans, jika sebagai pembaca kalian menginginkan bacaan yang ringan tapi mendalam buku ini benar-benar bagus. Selain itu, semua kalimat dalam buku ini bisa dijadikan quotes. Asal, jangan lupa sertakan nama penulisnya yah!

Sekian dulu review dari aku. Buku ini masih mejeng di toko buku, baik yang offline ataupun online. Tinggal pilih karena saya jamin setelah baca buku, kalian akan ketagihan untuk baca buku yang kedua dan seterusnya. Bukunya mudah sekali untuk ditemukan, jadi jangan sampai kalian lewatkan yah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here