Friday, August 23, 2019
Home Blog Page 3

Kursi Megawati Sebagai Ketum PDIP Tidak Tergoyahkan

Kursi Megawati Sebagai Ketum PDIP Tak Tergoyahkan
Kursi Megawati Sebagai Ketum PDIP Tak Tergoyahkan

Kursi Megawati Sebagai Ketum PDIP Tidak Tergoyahkan

Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP memiliki sejarah panjang dalam perpolitikan Indonesia. Sejak PDIP berdiri, Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Ketua Umum PDIP.

Kini muncul isu dorongan agar ada regenerasi dalam kepengurusan PDIP. Tetapi Ketua DPP PDIP nonaktif Puan Maharani pun juga mengatakan partainya solid mendukung Megawati Soekarnoputri untuk kembali menjabat sebagai ketua umum saat Kongres ke V PDIP.

Iya insya Allah kita (PDIP) semua solid masih berharap Ibu Mega berkenan untuk kembali menjadi ketua umum, kata Puan.

Merdeka.com merangkum perjalanan politik Megawati Soekarnoputri menjadi Ketum PDIP dari periode ke periode.

Menjadi Ketum Periode 2000-2005

Sebelum bernama PDIP, partai berlambang banteng ini bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI), karena konflik internal PDI bubar. Hingga akhirnya Megawati mengubah nama PDI menjadi PDI Perjuangan pada tanggal 1 Februari 1999 yang disahkan oleh Notaris Rakhmat Syamsul Rizal, agar dapat mengikuti Pemilu 1999. Nama ini kemudian dideklarasikan pada 14 Februari 1999 di Istora Senayan, Jakarta.

Pemilu 1999 membawa berkah bagi PDI Perjuangan dengan tampil sebagai pemenang pemilu dan berhasil menempatkan wakilnya di DPR sebanyak 153 orang. Bahkan, Megawati terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi KH Abdurahman Wahid yang terpilih didalam Sidang Paripurna MPR sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4.

Untuk pertama kalinya setelah berganti nama menjadi PDIP, pengurus memutuskan melaksanakan Kongres I PDIP diselenggarakan pada 27 Maret-1 April 2000 di Hotel Patra Jasa, Semarang, Jawa Tengah. Kongres ini menetapkan Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDIP periode 2000-2005 secara aklamasi tanpa pemilihan, karena 241 dari 243 DPC mengusulkan nama Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDIP.

Ketum Periode 2005-2015

Kemudian pada Kongres II PDI Perjuangan diselenggarakan pada 28-31 Maret 2005 di Hotel Grand Bali Beach, Denpasar, Bali kembali mengukuhkan Megawati sebagai Ketua Umum terpilih karena seluruh peserta dalam pemandangan umumnya mengusulkan nama putri Proklamator RI itu.

Kursi Megawati sebagai Ketum PDIP tidak tergoyahkan. Megawati kembali menjadi Ketum PDIP untuk periode 2010-2015. Di bawah kepemimpinan Megawati pada Pilpres 2014, PDIP berhasil mengantarkan kadernya yakni Jokowi menjadi Presiden ke-7. PDIP juga menjadi pemenang Pileg 2014 dengan meraup 23.681.471 suara.

Ketum Periode 2015-2020

Terakhir pada Kongres IV PDI Perjuangan di Bali pada 8-12 April 2015, Megawati kembali dikukuhkan sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2015-2020.

Lagi-lagi PDIP berhasil menjadi pemenang Pileg 2019 dengan 139.971.260 suara, dan mengantarkan Jokowi sebagai calon petahana kembali memenangkan Pilpres 2019.

PDIP Solid Dukung Kembali Megawati Jadi Ketum

PDIP kembali akan menggelar Kongres ke V di Bali pada 8 Agustus 2019. Hampir dipastikan Megawati kembali terpilih menjadi Ketum PDIP untuk periode selanjutnya. Terlebih menurut Ketua DPD PDIP DKI Jakarta, Adi Wijaya, semua ketua dewan pimpinan daerah se-Indonesia menyatakan dukungan agar Megawati kembali memegang tongkat kepemimpinan partai.

Ketua-ketua DPD PDIP se-Indonesia waktu Rakernas sudah menyatakan sikap dan keputusan bahwa kami semua mendukung kembali Ibu Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum PDIP periode 2019-2024, ujar Adi.

Reza Rahadian Sebut 3 Peran Ini Mengubah Kariernya

Reza Rahadian Sebut 3 Peran Ini Mengubah Kariernya
Reza Rahadian Sebut 3 Peran Ini Mengubah Kariernya

Reza Rahadian Sebut 3 Peran Ini Mengubah Kariernya

Jakarta – Hampir 15 tahun berkarier di dunia seni peran, Reza Rahadian kini menjadi salah satu aktor papan atas Indonesia. Sejumlah sineas mengincar Reza Rahadian untuk memperkuat film mereka. Yang terbaru, Ernest Prakasa meminang Reza Rahadian untuk film barunya, Imperfect: Cinta, Karier, dan Timbangan.

Berkarier di layar lebar sejak 2005, Reza Rahadian telah membawa pulang 4 Piala Citra. Aktor kelahiran 5 Maret ini telah membintangi lebih dari 40 film dengan beragam genre.

Reza Rahadian mengakui, dari puluhan karakter yang dimainkan, beberapa berdampak besar terhadap kariernya. Kepada Showbiz, Reza Rahadian menyebut tiga peran yang mengubah hidupnya.

Pertama, peran Syamsudin di film Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo. Ini kali pertama saya dapat film panjang dengan kualitas penggarapan bagus. Kali pertama juga dapat Piala Citra, ungkap Reza Rahadian yang kemudian meraih Piala Citra kedua di film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.

Memerankan Peran BJ Habibie

Kedua, peran BJ Habibie di film Habibie & Ainun (2012). Reza Rahadian menjelaskan, saat menghidupkan tokoh nyata yang masih hidup, biasanya muncul kekhawatiran tidak laku di pasar. Nyatanya, film ini sukses memadukan unsur kualitas dan komersial.

Habibie & Ainun meraih 3 Piala Citra termasuk Pemeran Utama Pria Terbaik bagi Reza Rahadian. “Film ini juga meraih 4,6 juta penonton. Salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa,” beri tahu Reza Rahadian.

Memerankan Menjadi Bossman Di Stupid My Bos

Terakhir, My Stupid Boss karya Upi. Film ini menyerap 3,05 juta penonton lebih. Sekuelnya yang dirilis semester pertama tahun ini menyihir 1,8 juta penonton.

Biasanya saya main film drama. Hampir tidak pernah mengeluarkan sisi komedi. Beberapa kali main film komedi, jumlah penontonnya tidak tinggi. My Stupid Boss, melegitimasi kemampuan saya di genre komedi yang layak diapresiasi khalayak, pungkasnya.

Lewat peran Bossman di My Stupid Boss, Reza Rahadian menyabet Piala Citra keempat.

Alasan Kevin Liliana Pilih Oskar Mahendra sebagai Pendamping Hidup

Alasan Kevin Liliana Pilih Oskar Mahendra sebagai Pendamping Hidup
Alasan Kevin Liliana Pilih Oskar Mahendra sebagai Pendamping Hidup

Alasan Kevin Liliana Pilih Oskar Mahendra sebagai Pendamping Hidup

Jakarta – Hendak untuk menikah dengan Oskar Mahendra, membuat Kevin Liliana sempat menuai kritik warganet. Banyak Warganet yang bertanya-tanya mengapa Kevin Liliana memilih duda anak satu tersebut sebagai pendampingnya kelak.

Kevin Liliana telah resmi bertunangan dengan Oskar Mahendra pada Sabtu (22/06/2019) di sebuah hotel di kawasan Bandung.

Sebelum menjalin hubungan dengan Kevin Liliana, Oskar Mahendra sempat gagal menjalin hubungan rumah tangga. Dari pernikahannya itu, Oskar dikaruniai satu orang putri yang bernama Shalana Raelyn Mahendra.

Calon suami terlalu sering dikomentar miring oleh warganet, Kevin sepertinya sudah tidak tahan lagi. Lewat akun Instagram-nya, pemenang ajang kecantikan Miss Internasional 2017 ini akhirnya mengungkapkan mengapa ia memilih Oskar Mahendra sebagai pendamping hidupnya.

Kevin Liliana menyebut bahwa Oskar merupakan seseorang yang supel dan pintar. Tapi hal itu saja tidak cukup membuat Kevin Liliana jatuh hati.

Menghargai Perempuan

Dulu awal kenal sama Oskar, dia orangnya supel dan enak banget diajak ngobrol, tau banyak hal, pinter. Tapi menurut aku itu biasa aja, bukan hal utama yang bikin aku jatuh hati, tulis Kevin Liliana dalam keterangannya.

Hal utama yang membuat Kevin Liliana jatuh hati kepada Oskar ialah menurutnya, Oskar merupakan pribadi yang bisa menghargai seorang perempuan.

Sampai ketika aku lagi main di satu mall dan ternyata dia lagi di mall yang sama, lagi ajak main anaknya, Lana. Dan aku liat dari luar arena permainan gitu, gimana dia memperlakukan Lana bener-bener bikin aku jatuh hati. Setelah lumayan lama kenal, ternyata dia cuma punya Ibu, kakak perempuan, adik perempuan, dan anak perempuan. Dari situ aku semakin sadar kalau cara dia memperlakukan perempuan itu luar biasa, dia bisa banget menghargai perempuan, tambahnya.

Lebih Santai

Sampai saat ini, Kevin sering kali merasa kesal dan tersinggung jika ada seseorang yang berkata seenaknya mengenai Oskar. Berbeda dengan Kevin, Oskar yang dibanjiri komentar miring warganet malah lebih santai menanggapi omongan miring tentang dirinya sendiri.

Sampai sekarang, masih ada aja orang yang suka berkata seenaknya sama Oskar. Lucunya, yang kesinggung malah aku, dianya cuma ketawa-ketawa aja sumpah selama kenal sama Oskar ga pernah liat dia kesel sama perkataan netizen sotoy. Padahal kalau kalian udah kenal sama Oskar, pasti bisa menilai sendiri kok dia orangnya seperti apa, tulis Kevin

Jika Megawati Tak Jadi Ketum, PDIP Bakal Pecah?

Jika Megawati Tak Jadi Ketum, PDIP Bakal Pecah?
Jika Megawati Tak Jadi Ketum, PDIP Bakal Pecah?

Jika Megawati Tak Jadi Ketum, PDIP Bakal Pecah?

Jakarta – Pengurus PDIP Jawa Barat menilai belum ada sosok yang bisa menggantikan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum partai. Ketua DPD PDIP Jabar, TB Hasanuddin menyatakan semua pengurus di tingkat kabupaten kota serta para calon anggota legislatif sepakat mengusulkan Megawati meneruskan kepemimpinannya periode 2019-2024.

100% keinginannya sama (ingin Megawati tetap ketum). Itu merupakan aspirasi dari bawah, katanya ditemui di Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Jumat (21/06/2019).

Menurutnya, PDIP membutuhkan sosok pemimpin yang kuat, berkarakter, mampu mempersatukan seluruh elemen dan komponen di partai. Di sisi lain, semua indikator itu belum dimiliki kader lain meski yang berstatus senior sekalipun.

Pria yang mencalonkan diri dalam Pilgub Jabar 2018 itu mengaku tidak bisa membayangkan PDIP dipimpin selain Megawati. Bahkan jika itu terjadi, maka akan terjadi permasalahan di internal pengurus dan kader.

Satu-satunya yang kami anggap bisa, mampu dan layak itu adalah hanya Bu Mega. Saya tidak bisa bayangkan muncul pemimpin yang lain, enggak ngerti saya. Akan ada faksi kalau bukan Bu Mega, jelasnya.

Disinggung keinginan regenerasi yang sempat diutarakan Megawati dalam kursi pimpinan partai, TB beranggapan situasinya belum memungkinkan.

Beliau maunya begitu. Tapi kami sudah membayangkan apa yang terjadi kalau tidak beliau. Jadi dengan segala hormat ibu harus turun lagi, sampai kapan? ya tidak tahu, jelasnya.

Ketua Umum itu harus memiliki kemampuan menjaga kohesi intern, itu yang paling penting. Karena ideologi kan sama, tapi latar belakang kadernya sangat heterogen. Belum ada yang mampu selain Bu Mega, lanjutnya.

Potensi Kader Lain

Sementara ketika ditanya terkait potensi Puan Maharani atau Hasto Kristianto, TB memilih untuk menjawab normatif. Semua yang disampaikannya tidak menyinggung satu atau dua kader.

Saya tidak berbicara soal si A, B, C. Sekarang intinya masih butuh figur Megawati. Tidak tahu ke depannya ini tidak terlepas dari kondisi dan situasi intern dan ekstern, imbuhnya.

Pengurus Jabar pengen Bu Mega. Kami sudah ikrar, meminta dengan paksa Bu Mega maju lagi untuk persatuan kami, pungkasnya.

Diketahui, Kongres V PDIP dipercepat menjadi 8-10 Agustus 2019 di Bali yang seharusnya digelar pada 2020. Salah satu agenda yang diselenggarakan adalah terkait pemilihan ketua umum.

Skripsi Dian Sastrowardoyo Sempat Bikin Mantan Dosen Kewalahan

Skripsi Dian Sastrowardoyo Sempat Bikin Mantan Dosen Kewalahan
Skripsi Dian Sastrowardoyo Sempat Bikin Mantan Dosen Kewalahan

Skripsi Dian Sastrowardoyo Sempat Bikin Mantan Dosen Kewalahan

Jakarta – Sebuah fakta menarik soal Dian Sastrowardoyo yang diutarakan oleh mantan dosennya, Rocky Gerung, selama ia mengenyam Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia.

Rocky memuji Dian Sastrowardoyo sebagai salah satu mahasiswi tercerdas sepanjang ia menjadi dosen pembimbing skripsi. Ditambah, Dian juga menggunakan beberapa penelitian yang terbilang sulit.

Dia memang anaknya pintar. Dia menulis Fashion and Philosophy, kata Rocky Gerung dalam salah satu tayangan acara Alvin & Friends.

Selain itu, Rocky Gerung mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan Dian Sastrowardoyo termasuk sulit karena harus menggunakan beberapa penelitian yang dianggapnya cukup berat.

Tidak Ikuti Tradisi

(Itu berat, karena ada teori Post Postmodernism dan segala macam), kata dia.

Namun, mantan dosen Filsafat Universitas Indonesia ini tidak mau memberikan nilai kepada istri dari Maulana Indraguna Sutowo itu.

Ada tradisi dalam pembimbing itu kasih nilai kan, biasanya kan pembimbing subyektif kasih nilai tertinggi kan. Tapi saya bilang saya netral, saya tidak akan kasih nilai.

Hanya sebagai Pembimbing

Alasan Rocky tidak memberikan nilai karena dia menganggap hanya sebagai pembimbing Dian. Sehingga yang pantas memberikan nilai adalah para penguji di sidang skripsi Dian Sastrowardoyo.

(Silahkan para penguji yang kasih nilai. Jadi saya buktikan tidak ada urusan apa-apa), tutupnya.

Dian Sastro diketahui merupakan lulusan program Sarjana (S1) Filsafat UI pada Juli 2007. Dian melanjutkan studi di Magister Manajemen Universitas Indonesia. Ibu dua anak itu sukses menyelesaikan program S2 dengan predikat cumlaude pada Tahun 2014.

Tidak Sukses dengan Ayu Ting Ting, Ivan Gunawan Mulai Dekati Wika Salim

Tidak Sukses dengan Ayu Ting Ting, Ivan Gunawan Mulai Dekati Wika Salim
Tidak Sukses dengan Ayu Ting Ting, Ivan Gunawan Mulai Dekati Wika Salim

Tidak Sukses dengan Ayu Ting Ting, Ivan Gunawan Mulai Dekati Wika Salim

Jakarta – Ivan Gunawan yang merupakan Presenter dan juga seorang desainer kondang Indonesia yang kerap wara-wiri muncul di televisi. Kariernya yang sukses nampaknya tidak diikuti dengan kisah asmaranya.

Seperti percintaannya dengan Ayu Ting Ting. Ivan Gunawan, kerap terlihat mendekati pelantun (Sik Asik), bahkan ia sempat mengutarakan perasaannya yang disiarkan di televisi.

Sepertinya, Ayu Ting Ting hanya menganggap Ivan Gunawan hanyalah teman. Tak mau terpuruk, Igun, begitu biasa disapa, mencari sosok pengganti Ayu.

Dikatakan sahabatnya, Ruben Onsu, dalam acara talk show yang dipandunya Ivan Gunawan, tengah mendekati pedangdut lainnya bernama Wika Salim. Bahkan, Igun, sudah berkomunikasi melalui aplikasi di handphone.

Ruben Onsu, pun mengklarifikasi kebenaran pengakuan Ivan Gunawan kepada Wika Salim, saat menjadi bintang tamu.

Tapi Igun pernah enggak WhatsApp-in Wika? tanya Ruben Onsu kepada Wika Salim.

Bikin Penasaran

Wika Salim tanpa ragu menjawab pertanyaan yang diajukan Ruben Onsu, Pernah, jadi waktu itu A Igun diem-diem fotoin aku terus dia kirim ke aku.

Tidak sampai di situ saja, Ruben Onsu juga penasaran dengan hubungan Wika Salim dengan Ivan Gunawan lantaran pedangdut itu memiliki tatapan yang berbeda.

Kenapa sih lu kalo ngeliat Igun matanya begitu, kenapa sih, ucap Ruben Onsu, sambil tertawa.

Pemangsa Penyanyi Dangdut

Hanya mendapat senyuman dari Wika Salim, Ruben Onsu mengingatkan Ivan Gunawan merupakan pemangsa penyanyi-penyanyi dangdut.

Soalnya temen gue ini pemangsa penyanyi dangdut. Kalau enggak gua halang-halangin Iis Dahlia aja diembat, ucap Ruben Onsu sambal tertawa.

(Lu tahu kenapa gua suka sama Iis Dahlia? Gue enggak kuat ama kumisnye), jawab Ivan Gunawan atas candaan Ruben Onsu.

Berkumis

Mendengar ucapan Ivan Gunawan, Wika Salim pun menggodanya. Ia mengaku juga memiliki kumis seperti Iis Dahlia.

Aku juga punya kumis tahu A, goda Wika kepada Irvan Gunawan.

Mendengar ucapan Wika, Ivan Gunawan membalas godaan itu, Iya makanya aku lemah sama kamu.

Sekjen PDIP: Rakernas IV Tertutup, Banyak Bahas Masalah Internal

Sekjen PDIP: Rakernas IV Tertutup, Banyak Bahas Masalah Internal
Sekjen PDIP: Rakernas IV Tertutup, Banyak Bahas Masalah Internal

Sekjen PDIP: Rakernas IV Tertutup, Banyak Bahas Masalah Internal

Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang ke IV di kantor DPP, Jakarta, hari ini. Acara tersebut digelar secara tertutup.

Mohon maaf kepada teman-teman pers, mengingat Rakernas IV lebih banyak membahas agenda internal partai, maka rakernas bersifat tertutup. Sama halnya ketika Ibu Ketua Umum dalam Rakernas III di Bali mengambil keputusan untuk mencalonkan kembali Pak Jokowi, maka Rakernas IV kali ini pun dilaksanakan secara tertutup, ucap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, dalam keterangannya, Rabu (19/06/2019).

PDIP, kata Hasto, menyadari bahwa politik memerlukan ruang kontemplasi agar mengalir gagasan jernih dan semakin berdedikasi bagi rakyat, bangsa, dan negara Indonesia.

Partai menyadari bahwa keheningan dalam politik penting dalam kontemplasi politik. Terlebih ketika PDIP memerlukan suasana khusus, memerlukan kejernihan alam pikir guna merumuskan agenda strategis internal partai ke depan, jelas Hasto.

Selain itu, menurut Hasto, Rakernas IV juga merumuskan seluruh tanggung jawab partai, di dalam mewujudkan harapan rakyat yang telah memercayakan PDIP dan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pemilu 2019.

Kami tidak menanggapi kemenangan dengan euforia. Kami bersyukur, dipercaya kembali oleh rakyat. Kami bertanggung jawab untuk menggunakan besarnya dukungan rakyat tersebut di dalam membangun masa depan bangsa secara bersama-sama dengan cara gotong royong dengan seluruh komponen bangsa, jelas Hasto.

Kesemuanya ini, lanjut dia, adalah rangkaian untuk menuju Kongres ke V di Bali, 8 Agustus 2019.

Dalam Rakernas IV memang secara khusus untuk mempersiapkan pelaksanaan. Partai secara khusus sebagai untuk mempersiapkan konsolidasi partai dalam rangka pelaksanaan Kongres V yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2019 di Bali, pungkas Sekjen PDIP Hasto.

Megawati Akan Tetap Ketua Umum?

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Pramono Anung menegaskan, Megawati Soekarnoputri akan tetap menjabat sebagai Ketua Umum PDIP. Dalam Kongres PDIP mendatang, kata dia, Megawati akan jadi calon ketua umum secara aklamasi.

Dan pasti kalau melihat potensi dan juga indikasi, karena kita menang pemilu legislatif dengan angka yang signifikan dan menang pilpres, kemungkinan besar akan aklamasi, kata Pramono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/6).

Pramono menjelaskan, Megawati telah berhasil membuat partai berlambang banteng moncong putih ini terus berkembang pesat. Karena itu, Mega akan diminta kadernya untuk bersedia menjabat kembali sebagai Ketua Umum PDIP.

Karena memang Bu Mega sebagai pemersatu dari partai yang mempunyai ideologi sehingga dalam kongres nanti kemungkinan besar Bu Mega akan diminta bersedia untuk dipilih kembali menjadi Ketua Umum, ungkapnya.

Meski Megawati akan menjabat ketua umum kembali, Pramono membenarkan bahwa nantinya akan ada jabatan baru di PDIP, yakni Ketua Harian dan Wakil Ketua Umum. Pembahas posisi itu akan dilakukan dalam Kongres V PDIP nanti.

Memang ada wacana apakah nanti ada Ketua Harian mapun Wakil Ketua Umum, mekanisme ini diserahkan sepenuhnya ke dalam kongres, ungkapnya.

 

Amora Lemos Jadi Penyanyi, Krisdayanti Siapkan Dua Hal Ini

Amora Lemos Jadi Penyanyi, Krisdayanti Siapkan Dua Hal Ini
Amora Lemos Jadi Penyanyi, Krisdayanti Siapkan Dua Hal Ini

Amora Lemos Jadi Penyanyi, Krisdayanti Siapkan Dua Hal Ini

Jakarta – Krisdayanti sedang bungah. Putrinya, Amora Lemos, mengikuti jejaknya menjadi penyanyi profesional. Pekan ini, Amora Lemos memperkenalkan single anyar (Sahabat Tersayang) karya mendiang Elfa Secioria dan Vera Syl.

Single itu menjadi soundtrack film Rumah Merah Putih yang dibintangi Yama Carlos dan Pevita Pearce. Krisdayanti mendukung Amora terjun ke panggung seni. Meski demikian, Krisdayanti menyiapkan beberapa hal agar jalan putrinya di dunia seni mulus.

Pertama, Amora belum pernah masuk studio. Belum tahu teknisnya bakal kayak apa. Sebagai orang tua, saya ajak Amora latihan atau workshop dulu. Sejauh ini, Amora mampu mengikuti (prosesnya), beri tahu Krisdayanti di Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Diakui Krisdayanti, dirinya dan Amora memiliki proses berbeda dalam merintis karier menyanyi profesional. Di era Krisdayanti belum ada medsos dan YouTube, untuk menjadi penyanyi, ia mengikuti kontes menyanyi dulu, salah satunya Asia Bagus.

Di awal dekade 1990-an Krisdayanti dinobatkan sebagai juara umum Asia Bagus. Ia merilis album Terserah, kemudian menandatangani kontrak kerja dengan Warner Music Indonesia.

Bersama Warner Music, Krisdayanti melahirkan banyak album laris, salah satunya Sayang (1998) dengan hit besar “Menghitung Hari.” Akankah, Amora bisa memiliki hit sebesar ibunya? Soal ini, Krisdayanti menilai sebuah lagu menjadi hit atau tidak bergantung pada respons masyarakat.

Membangun Kepercayaan Diri

Daripada berambisi melahirkan hit, Krisdayanti fokus membangun rasa percaya diri Amora. Saya tanya Amora, dia bilang ingin menyanyi karena sering melihat saya menyanyi. Dia melihat gestur saya memegang mikrofon saat manggung beda dengan saat karaoke. Saya mengajari Amora soal ini. Saya juga mengajarinya berinteraksi di depan banyak orang selama manggung. Alhamdulillah saya terharu dan bangga pada putri saya, pungkas Krisdayanti.

Jalan-Jalan Pakai Kursi Roda, Syahnaz Sadiqah Dianggap Lebay

Jalan-Jalan Pakai Kursi Roda, Syahnaz Sadiqah Dianggap Lebay
Jalan-Jalan Pakai Kursi Roda, Syahnaz Sadiqah Dianggap Lebay

Jalan-Jalan Pakai Kursi Roda, Syahnaz Sadiqah Dianggap Lebay

Jakarta – Syahnaz Sadiqah, dan suami, Jeje Govinda, bahagia akhirnya penantian panjang untuk mendapatkan momongan terwujud. Kini, adik Raffi Ahmad tersebut tengah hamil muda.

Tak ingin terjadi sesuatu pada kehamilan Syahnaz Sadiqah, Jeje Govinda, begitu posesif. Bahkan, personel band Govinda ini tak ingin Syahnaz terlalu lelah.

Jeje Govinda pun membelikan Syahnaz Sadiqah sebuah kursi roda, untuk menemaninya jalan-jalan di mal.

Syahnaz Sadiqah membagikan momen ia duduk di kursi roda ditemani sang suami, di sebuah mal di akun Instagram, Sabtu (15/06/2019).

Tidak Boleh Banyak Jalan

Dalam keterangan, Syahnaz Sadiqah menceritakan betapa sang suami menjaga kesehatan dirinya dan calon anak mereka.

Malem mingguannya didorong suamik. Sekarang suamik posesip benerrr… aku blm boleh terlalu banyak jalan soalnya usia kandungan masii muda sekaliiiii, daaan karna hari ini bakal keliling mall daaaan kita kalo di mall itu pasti ga bisa sebentar karna suamik ini doyan bgt muterin mall berkalikali entah apa yg dia cari… jadi demi keamanan bebina dan kenyamanan maminya didorong doronglaaaaaah aku, jd sok welaah mau keliling mall 10 kali juga aku siaappp, paparnya.

Dianggap Lebay

Kelakuan Syahnaz Sadiqah dan Jeje Govinda menjadi perhatian warganet. Tak sedikit yang menganggap pasangan suami istri ini terlalu lebay alias berlebihan.

(Hahhahaa lebaayy…. Kayak anak kecil aja… Nggak malu di liatin orang…), tulis akun @rani_aje.

(Haduh gitu amat… alay bgt .. lebay pek…), timpal akun @evanka712.

(Hhhmmm gitu amat . Hamil muda puasa dulu nge mall nyaaa… Istirahat dirumah menikmati hamil muda…. Hhhmmmm), sambung akun @vickyvheo666.

 

Persepi Heran Bos Lembaga Survei Jadi Sasaran Ancaman Pembunuhan

Persepi Heran Bos Lembaga Survei Jadi Sasaran Ancaman Pembunuhan
Persepi Heran Bos Lembaga Survei Jadi Sasaran Ancaman Pembunuhan

Persepi Heran Bos Lembaga Survei Jadi Sasaran Ancaman Pembunuhan

Jakarta – Anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Hamdi Muluk menganggap, ancaman pembunuhan terhadap tokoh lembaga survei merupakan hal yang ganjil.

Menurutnya, lembaga survei sudah mengikuti standar ilmiah dalam menggali data. Ia tidak mengontruksikan fakta, melainkan memotret fakta di masyarakat.

Ya aneh, maksud saya begini, apa urusannya lembaga survei diancam. Itu kan, kita melakukan survei ilmiah sudah mengikuti prosedur-prosedur ilmiah. Maksud saya begini, bagi saya agak heran apa urusannya misalnya ya, peneliti, pemilik lembaga survei, orang yang bekerja di lembaga survei diancam akan dibunuh. Saya tidak melihat alasan yang masuk akal untuk membunuh itu apa?” papar Hamdi Muluk saat dihubungi di Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Selain itu, Hamdi juga merasa heran mengapa yang menjadi target sasaran serta ancaman pembunuhan hanya Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Satu lagi saya heran juga, kenapa hanya Yunarto? yang lain juga melakukan kok. Ada 11 lembaga lain juga pada waktu quick count itu. Hasilnya sama aja, ada Cyrus, ada CSIS, ada Poltracking, sama semua kok. Ini jadi aneh kenapa hanya Yunarto yang disasar, tegas Hamdi.

Padahal, menurut profesor Psikologi Universitas Indonesia (UI) itu, lembaga survei selama ini sudah banyak membantu masyarakat untuk menilai elektabilitas baik calon presiden maupun legislatif secara objektif.

Publik banyak terbantu. Menjadi pegangan bagi orang, oh ini kandidat yang lagi ratingnya bagus, ini partai yang ratingnya bagus. Itukan tidak ada masalah iya kan? Jadi bagi saya tuh agak aneh ya, lanjut Hamdi.

Dia juga menyayangkan publik Indonesia yang gagal memahami kerja lembaga survei dan merasa kecewa hasil dari lembaga tersebut. Padahal lembaga survei menghasilkan temuan di masyarakat.

Menurut saya ndak dewasa berdemokrasi. Dia (mereka) mengatakan lembaga survei memenangkan satu kandidat A, mengalahkan kandidat B ndak bisalah. Lembaga survei hanya memotret, sekarang popularitasnya begini, elektabilitas segini, iyakan? kata Hamdi.

Demokrasi Tidak Sehat

Hamdi menganggap fenomena tersebut sebagai bentuk ketidaksehatan demokrasi di Indonesia. Baginya, hal itu bukan kabar suatu hal yang baik bagi iklim demokrasi di Indonesia.

Dari mulai juga rusuh 21/22 Mei, ada ancaman juga pembunuhan, ancaman lagi dilanjut tokoh-tokoh yang lain, termasuk Menko Polhukam. Itu kita berdemokrasi mundur, ini bukan berita baik bagi demokrasi kita. Tidak boleh kita berdemokrasi perbedaan pendapat diselesaikan secara kekerasan, intimidasi, anacam-mengancam, bunuh-membunuh. Itu perdaban mundur, abad kegelapan kali ya, tutur Hamdi.

Menurut Hamdi, hal itu bisa terjadi karena sebagain elite politik yang tidak memiliki sikap kenegarawanan serta legowo atas hasil pertarungan politik.

Ini adalah kurangnya sikap kenegarawanan menurut saya, kurang sikap sportifitas. Kalau kalah ya sudah, jangan mengajak orang untuk rusuh. Elite politiknya gentleman dong, pungkasnya.

Ancaman terhadap Yunarto

Sebelumnya diberitakan, Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary membeberkan dugaan rencana pembunuhan terhadap Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Para tersangka yang telah ditangkap polisi, menurut dia, mengaku diperintahkan Mayjen (Purn) TNI Kivlan Zen untuk membunuh Yunarto.

Salah satunya adalah tersangka Irfansyah alis IR. Ia mengaku diperintahkan Kivlan Zen untuk membunuh Yunarto Wijaya saat bertemu dengan Kivlan Zen pada April 2019. Irfansyah bertemu Kivlan Zen di Masjid Pondok Indah, ditemani rekannya, Armin dan Yusuf.

Kivlan salat asar sebentar, setelahnya memanggil saya lalu saya masuk ke dalam mobil Kivlan, lalu (Kivlan) mengeluarkan HP dan menunjukkan alamat serta foto Yunarto ‘quick count’ dan Pak Kivlan bilang ‘cari alamat ini, nanti kamu foto dan video’. Siap, saya bilang, kata Irfansyah dalam video yang diputar polisi dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Irfansyah mengaku menerima uang Rp 5 juta dari Kivlan Zen sebagai biaya operasional. Ia juga mendapat alamat kantor Charta Politika di Jalan Cisanggiri 3 Nomor 11.

Keesokan harinya kami langsung survei yang diperintahkan di Jalan Cisanggiri 3 Nomor 11. Lalu, saya dan Yusuf menuju lokasi sekitar jam 12.00 siang. Sampai di sana, dengan HP Yusuf, kami foto dan video alamat tersebut, alamat Yunarto. Setelah itu foto dan video dari HP Yusuf dikirim ke saya lalu saya kirim ke Armin. Lalu dijawab, ‘mantap’, ungkap dia.

 

 

Most popular

Recent posts