Latin Brides for Marriage

Monday, June 18, 2018

10 Pelatih Terbaik Timnas Indonesia Sepanjang Masa


Hasil gambar untuk timnasSiapa sajakah pelatih terbaik yang pernah melatih tim nasional Indonesia?  Sangat Sulit untuk hanya memilih 1 dari sekian banyak pelatih bagus. Masyarakat akhirnya memilih 10 di antaranya.
Berikut ini 10 terbaik timnas Indonesia yaitu :

1). Selain menjadi pelatih terlama bagi para tim nasional Indonesia, pelatih berkebangsaan Yugoslavia ini adalah salah satu pelatih terbaik Garuda selama ini. Bagaimana tidak, karena Sejumlah pencapaian mengagumkan sukses sudah diraih oleh Tony semasa menjabat sebagai pelatih.

Sebut saja sukses menjuarai Piala Asia Muda, (kini Piala Asia U-19) bersama Myanmar (1961), sudah mencapai babak semifinal Asian Games Manila (1954), bermain imbang 0 - 0 melawan Uni Soviet pada babak perempat - final di Olimpiade Melbourne (1956) dan sebuah medali perunggu di ajang Asian Games 1958 (Tokyo) menjadi peraihan terbesarnya.

Tidak hanya itu saja, dirinya pun sudah  berhasil juga membangun kekuatan yang lumayan menakutkan di skuat tim nasional kala itu. Buktinya saja, pada tahun 1962 Jopie Leepel cs dapat mencapai standar kekuatan tim internasional (pada Tempo, 1972).

Hasil-hasil manis ini merupakan buah dari kerja keras sang pelatih. Sejak diberi amanat oleh Presiden Soekarno untuk menangani timnas, Pogacnik langsung mencari bakat-bakat sepakbola ke seluruh pelosok daerah. Selain itu juga, ia mengerti bagaimana cara memanfaatkan pemain-pemainnya yang terbilang pendek agar tetap mampu bersaing dengan tim-tim kuat, baik di Asia maupun Eropa.

Sayangnya pun, skandal suap yang melibatkan para pemainnya di bulan Januari 1962 yang membuat Pogacnik kehilangan mimpinya untuk bisa membangun sebuah tim yang benar-benar akan diperhitungkan di level dunia.
Selain menjadi pelatih terlama bagi tim nasional Indonesia, pelatih berkebangsaan Yugoslavia tersebut merupakan salah satu pelatih terbaik Garuda sejauh ini. Bagaimana tidak? Sejumlah pencapaian mengagumkan sukses diraih oleh Tony semasa menjabat sebagai pelatih. Sebut saja sukses menjuarai Piala Asia Muda (kini Piala Asia U-19) bersama Myanmar (1961), mencapai babak semifinal Asian Games Manila (1954), bermain imbang 0-0 melawan Uni Soviet pada babak perempat-final di Olimpiade Melbourne (1956) dan sebuah medali perunggu di ajang Asian Games 1958 (Tokyo) menjadi raihan terbesarnya. Tak hanya itu, dirinya juga berhasil membangun kekuatan menakutkan di skuat tim nasional kala itu. Buktinya, pada tahun 1962 Jopie Leepel cs dapat mencapai standar kekuatan tim internasional (Tempo, 1972). Hasil-hasil manis tersebut adalah buah dari kerja keras sang pelatih. Sejak diberi amanat oleh Presiden Soekarno untuk menangani timnas, Pogacnik langsung mencari bakat-bakat sepakbola ke seluruh pelosok daerah. Selain itu, ia mengerti bagaimana memanfaatkan pemain-pemainnya yang terbilang pendek agar tetap mampu bersaing dengan tim-tim kuat, baik di Asia maupun Eropa. Sayangnya, skandal suap yang melibatkan para pemainnya di bulan Januari 1962 silam membuat Pogacnik kehilangan mimpinya untuk bisa membangun sebuah tim yang benar-benar diperhitungkan di level dunia.

2). Gelar juara SEA Games 1991 yang akan berhasil diraih oleh tim nasional Indonesia adalah berkat tangan dingin Anatoli Polosin. Bersama dengan dua asistennya yaitu, Danurwindo dan Vladimir Urin, pelatih asal Rusia ini juga sudah berhasil membuat skuat Merah Putih dengan menampilkan permainan cemerlang.

Setali dengan 3 uang dengan Toni Pogacnik, dia memberlakukan metode latihan lumayan keras. Dibawah arahannya, timnas dipaksa bermain dengan intelejensi serta ketahanan fisik yang benar-benar tinggi. tidak di awal masa kepelatihan Polosin, sejumlah pemain memilih untuk kabur dari pelatnas, di antaranya Fachry Husaini, Ansyari Lubis dan Eryono Kasiha.

Pada 3 pertandingan persahabatan ke-1, Ferri Hattu cs memang menjadi lumbung gol. Mereka kalah dari Malta (3 - 0), Korea Selatan (3 - 0) dan Mesir (6 - 0). Tetapi, semua itu tidak dipermasalahkan olehnya, Polosin justru puas dengan perkembangan fisik para pemain.

Barulah semua metode yang pelatihannya ini sudah membawa hasil ketika Indonesia berlaga di ajang SEA Games 1991 Manila, Filipina. Garuda membabat satu-persatu lawan, sebut saja Malaysia (2 - 0), Vietnam (1 - 0), Filipina (2 - 1), Singapura (menang adu penalti) dan terakhir di laga final melawan Thailand (4 - 3 lewat adu penalti).

 Gelar juara SEA Games 1991 yang berhasil diraih oleh tim nasional Indonesia adalah berkat tangan dingin Anatoli Polosin. Bersama dengan dua asistennya, Danurwindo dan Vladimir Urin, pelatih asal Rusia tersebut berhasil membuat skuat Merah Putih menampilkan permainan cemerlang. Setali tiga uang dengan Toni Pogacnik, dia memberlakukan metode latihan cukup keras. Dibawah arahannya, timnas dipaksa bermain dengan intelejensi serta ketahanan fisik yang tinggi. Tak ayal di awal masa kepelatihan Polosin, sejumlah pemain memilih untuk kabur dari pelatnas, di antaranya Fachry Husaini, Ansyari Lubis dan Eryono Kasiha. Pada tiga pertandingan persahabatan pertama, Ferri Hattu cs memang menjadi lumbung gol. Mereka kalah dari Malta (3-0), Korea Selatan (3-0) dan Mesir (6-0). Namun, semua itu tak dipermasalahkan olehnya, Polosin justru puas dengan perkembangan fisik para pemain. Barulah semua metode pelatihannya tersebut membawa hasil ketika Indonesia berlaga di ajang SEA Games 1991 Manila, Filipina. Garuda membabat satu persatu lawan, sebut saja Malaysia (2-0), Vietnam (1-0), Filipina (2-1), Singapura (menang adu penalti) dan terakhir di laga final melawan Thailand (4-3 lewat adu penalti).

3). Pria yang lahir di Ambon ini bisa juga dibilang sebagai salah satu dari sedikit pelatih lokal yang bisa masuk dalam kategori terbaik. Semasa ia melatih, tim nasional sukses menorehkan tinta emas di ajang SEA Games 1987 silam.

Ia pun dipercaya dengan membentuk skuat baru selepas kekalahan telak 7 - 0 dari Thailand di SEA Games 1985. Untuk memantapkan permainan timnya itu, Bertje memanggil pemain-pemain berbakat di era Galatama dan Perserikatan, seperti Ricky Yakobi, Robby Darwis dan Ribut Waidi.

Di balik penampilan luar biasa anak-anak asuhnya itu, sebetulnya masalah tengah menyelimuti club-club nasional. Kesulitan ekonomi mendera club-club lokal yang berkompetisi. Tapi, Bertje akhirnya mampu menyuntikkan semangat kepada skuatnya.

Akhirnya Yacobi cs sanggup bermain tanpa memikirkan uang sepersen pun. Dengan semangat nasionalisme mereka juga mampu mempersembahkan yang terbaik untuk negaranya.

Pria yang lahir di Ambon ini bisa dibilang sebagai salah satu dari sedikit pelatih lokal yang bisa masuk dalam kategori terbaik. Semasa ia melatih, tim nasional sukses menorehkan tinta emas di ajang SEA Games 1987 silam. Ia dipercaya membentuk skuat baru selepas kekalahan telak 7-0 dari Thailand di SEA Games 1985. Untuk memantapkan permainan timnya itu, Bertje memanggil pemain-pemain berbakat di era Galatama dan Perserikatan, seperti Ricky Yakobi, Robby Darwis dan Ribut Waidi. Di balik penampilan luar biasa anak-anak asuhnya kala itu, sebetulnya masalah tengah menyelimuti klub-klub nasional. Kesulitan ekonomi mendera klub-klub lokal yang berkompetisi. Namun, Bertje akhirnya mampu menyuntikkan semangat kepada skuatnya tersebut. Akhirnya Yacobi cs sanggup bermain tanpa memikirkan uang sepeserpun. Dengan semangat nasionalisme mereka juga mampu mempersembahkan yang terbaik untuk negaranya. 

4). Endang Witarsa yang juga termasuk pelatih terbaik tim nasional sejauh ini. Bersama dengan pria yang meninggal pada 2 April 2008 ini, Indonesia sukses meraih sejumlah gelar prestisius. Di antaranya, Piala Raja Thailand (1968), Merdeka Games Malaysia (1969), Pesta Sukan Singapura, Anniversary Cup (1972) dan Agha Khan Cup Pakistan (1972).

Kegigihan skuat Garuda pada era 1970-an memang tidak lepas dari kedisiplinan yang diterapkan olehnya. Pria yang memiliki gelar dokter ini pun dikenal sebagai pelatih keras yang sangat disiplin.

Selain memberikan prestasi gemilang, ia juga tercatat melahirkan pemain-pemain bintang yang luar biasa. Anwar Ujang, Bambang Sunarto dan Widodo C Putro merupakan sejumlah nama yang hasil didiknya.

Endang Witarsa juga termasuk pelatih terbaik tim nasional sejauh ini. Bersama dengan pria yang meninggal pada 2 April 2008 tersebut, Indonesia sukses meraih sejumlah gelar prestisius. Di antaranya, Piala Raja Thailand (1968), Merdeka Games Malaysia (1969), Pesta Sukan Singapura, Anniversary Cup (1972) dan Agha Khan Cup Pakistan (1972). Kedigdayaan skuat Garuda di era 1970-an memang tak lepas dari kedisiplinan yang diterapkan olehnya. Pria yang memiliki gelar dokter ini pun dikenal sebagai pelatih keras yang disiplin. Selain memberikan prestasi gemilang, ia juga tercatat melahirkan pemain-pemain bintang. Anwar Ujang, Bambang Sunarto dan Widodo C Putro adalah sejumlah nama yang merupakan hasil binaannya.

5). Membawa gaya sepakbola khas negeri Ratu Elisabeth, mantan pemain Aston Villa ini pun sudah sukses membawa perubahan besar bagi permainan Ilham Jaya Kesuma cs. Formasi tradisional 3-5-2 sontak diubah dengan gaya khas Inggris, yaitu 4-4-2.

Sempat dikritik oleh Benny Dollo dan Sutan Harhara, nyatanya Withe berhasil menuntun anak-anak asuhnya melaju hingga babak final Piala AFF 2004 dengan menggunakan formasi modern itu. Rekor tidak kalah dan tidak kebobolan di babak grup menjadi catatan mengagumkan yang mengiringi Indonesia melaju ke babak semifinal.

Meski sempat menderita kekalahan di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada babak semifinal leg pertama dari Malaysia,  Indonesia pun tetap sukses membalas dendam dengan skor yang cukup telak, 4-1 di Bukit Jalil pada leg ke-2.

Sayang sekali, performa gemilang skuat Garuda tak berlanjut di partai puncak saat berhadapan dengan Singapura.  di babak final itu tim nasional dipaksa menyerah 2 kali dengan skor agregat 5-2.
Membawa gaya sepakbola khas negeri Ratu Elisabeth, mantan pemain Aston Villa tersebut sukses membawa perubahan besar bagi permainan Ilham Jaya Kesuma cs. Formasi tradisional 3-5-2 sontak diubah dengan gaya khas Inggris, yaitu 4-4-2. Sempat dikritik oleh Benny Dollo dan Sutan Harhara, nyatanya Withe berhasil menuntun anak-anak asuhnya melaju hingga babak final Piala AFF 2004 dengan menggunakan formasi modern itu. Rekor tidak kalah dan tidak kebobolan di babak grup menjadi catatan mengagumkan yang mengiringi Indonesia melaju ke babak semifinal. Meski sempat menderita kekalahan di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada babak semifinal leg pertama dari Malaysia, namun Indonesia sukses membalas dendam dengan skor yang cukup telak, 4-1 di Bukit Jalil pada leg kedua. Sayang, performa gemilang skuat Garuda tak berlanjut di partai puncak saat berhadapan dengan Singapura. Ya, di babak final itu tim nasional dipaksa menyerah dua kali dengan skor agregat 5-2.


6). Patah tulang pada pergelangan kaki yang dialaminya pada awal tahun 1970-an membuat Sinyo Aliandoe banting stir menjadi pelatih. Meski tidak sempat mempersembahkan gelar bagi tim nasional, namun pria asal Flores tersebut sukses (menyentil) dunia.

Skuat asuhannya kala itu hampir saja menembus putaran final Piala Dunia Meksiko pada  tahun 1986. Bambang Nurdiansyah cs sukses lolos dari babak Grup 3B Zona Asia dengan menjadi juara grup. India, Bangladesh dan Thailand sanggup dikalahkan.

Sangat disayangkan sekali bahwa, hasil mengecewakan diderita Sinyo dan para pemainnya di babak selanjutnya. Di leg ke-1 di Seoul, Indonesia kalah 2 - 0, sebelum kemudian kalah 1 - 4 di Stadion Senayan (kini Gelora Bung Karno) dari raksasa Asia, Korea Selatan.

Akan tetapi, berkat ilmu yang ia petik ketika ikut penataran FIFA di Inggris, penampilan tim nasional Garuda menjadi penuh perhitungan dan di cap sebagai salah satu yang terbaik.

Patah tulang pada pergelangan kaki yang dialaminya pada awal tahun 1970-an membuat Sinyo Aliandoe banting stir menjadi pelatih. Meski tidak sempat mempersembahkan gelar bagi tim nasional, namun pria asal Flores tersebut sukses menyentil dunia. Ya, skuat asuhannya kala itu hampir menembus putaran final Piala Dunia Meksiko di tahun 1986. Bambang Nurdiansyah cs sukses lolos dari babak Grup 3B Zona Asia dengan menjadi juara grup. India, Bangladesh dan Thailand sanggup dikalahkan. Sangat disayangkan, hasil mengecewakan diderita Sinyo dan para pemainnya di babak selanjutnya. Di leg pertama di Seoul, Indonesia kalah 2-0, sebelum kemudian kalah 1-4 di Stadion Senayan (kini Gelora Bung Karno) dari raksasa Asia, Korea Selatan. Akan tetapi, berkat ilmu yang ia petik ketika ikut penataran FIFA di Inggris, penampilan tim nasional Garuda menjadi penuh perhitungan dan dicap sebagai salah satu yang terbaik. Read more at http://www.fourfourtwo.com/id/features/10-pelatih-terbaik-timnas-indonesia-sepanjang-masa?page=0,4#TBs3lAwklv01ojIL.99


7). Sukses dalam meraih gelar Piala Invitasi Brunei Darussalam di tahun 2000 bersama Persija Jakarta, Ivan Venko Kolev langsung diamanahi untuk melatih tim nasional Indonesia. Di bawah pelatih berkebangsaan Bulgaria itu, tim nasional sukses dibawa melaju ke putaran final Piala Asia 2004.

Dalam gelaran yang dilangsungkan di Tiongkok ini, Kolev bahkan mampu membuat Ponaryo Astaman cs berbicara lebih banyak.  dengan kemenangan 2 - 1 atas tim nasional Qatar pada babak grup membuat namanya di elu-elukan seantero nusantara. Hasil itu bahkan membuat pelatih Qatar saat itu, Philip Trousier langsung dipecat.

Sempat digantikan oleh Peter Withe, Kolev pun akhirnya kembali ke Indonesia pada ajang Piala Asia 2007. Kendati publik sempat pesimis, tetapi lagi-lagi Kolev mampu menyadarkan para suporter bahwa tim nasional tidak pantas dipandang sebelah mata.

Meski tidak lolos (lagi) ke babak selanjutnya, tapi performa Bambang Pamungkas cs dinilai sukses membangkitkan euforia pecinta sepakbola nasional.

Sukses meraih gelar Piala Invitasi Brunei Darussalam di tahun 2000 bersama Persija Jakarta, Ivan Venko Kolev langsung diamanahi untuk melatih tim nasional Indonesia. Di bawah pelatih berkebangsaan Bulgaria itu, tim nasional sukses dibawa melaju ke putaran final Piala Asia 2004. Dalam gelaran yang dilangsungkan di Tiongkok tersebut, Kolev bahkan mampu membuat Ponaryo Astaman cs berbicara lebih banyak. Ya, kemenangan 2-1 atas tim nasional Qatar pada babak grup membuat namanya di elu-elukan seantero nusantara. Hasil itu bahkan membuat pelatih Qatar saat itu, Philip Trousier langsung dipecat. Sempat diganti oleh Peter Withe, Kolev pun akhirnya kembali guna menukangi Indonesia di ajang Piala Asia 2007. Kendati publik sempat pesimis, namun lagi-lagi Kolev mampu menyadarkan para suporter bahwa tim nasional tidak pantas dipandang sebelah mata. Meski tidak lolos (lagi) ke babak selanjutnya, namun performa Bambang Pamungkas cs dinilai sukses membangkitkan euforia pecinta sepakbola nasional.

8). Tidak ada prestasi mengagumkan yang diukir oleh mantan pelatih Feyenoord ini, kecuali Indonesia hampir melaju ke ajang Olimpiade 1976 andai sukses membendung kekuatan Korea Utara. Namun, perjuangan keras yang ia lakukan demi para pemain dianggap sebagai salah satu aksi heroiknya.

Kedatangan Coerver diiringi dengan berbagai permasalahan yang sedang dialami oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Di bawah pimpinan ketua umum saat itu, Bardosono, PSSI seakan-akan bersifat tertutup atau masa bodoh terkait pembayaran bonus para pemain tim nasional.

Namun, apapun halangan yang  di hadapinya, Coerver tetap memperjuangkan hak anak-anak asuhnya atas nama profesionalisme. Itu sudah terbukti ketika Bardosono berhasil dipaksa menandatangani kesepakatan bonus untuk pemain.

Selain itu, pelatih yang sukses meraih gelar Piala UEFA 1974 ini juga kerap beradu argumen dengan petinggi PSSI terkait pemilihan pemain. Ia tidak serta merta menuruti apa yang diinstrusikan oleh ketua dewan kala itu, dan berkilah dengan melontarkan 1 kalimat, (Itu urusan saya).

Tak ada prestasi mengagumkan yang diukir oleh mantan pelatih Feyenoord tersebut, kecuali Indonesia hampir melaju ke ajang Olimpiade 1976 andai sukses membendung kekuatan Korea Utara. Namun, perjuangan keras yang ia lakukan demi para pemain dianggap sebagai salah satu aksi heroiknya. Ya, kedatangan Coerver diiringi dengan berbagai permasalahan yang sedang dialami oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Di bawah pimpinan ketua umum saat itu, Bardosono, PSSI seakan bersifat tertutup/masa bodoh terkait pembayaran bonus para pemain tim nasional. Namun, apapun halangan yang ia hadapi, Coerver tetap memperjuangkan hak anak-anak asuhnya atas nama profesionalisme. Itu terbukti ketika Bardosono berhasil dipaksa menandatangani kesepakatan bonus untuk pemain. Selain itu, pelatih yang sukses meraih gelar Piala UEFA 1974 tersebut juga kerap beradu argumen dengan petinggi PSSI terkait pemilihan pemain. Ia tak serta merta menuruti apa yang diinstrusikan oleh ketua dewan kala itu, dan berkilah dengan melontarkan satu kalimat, Itu urusan saya.

9). Pria yang pernah menjadi asisten pelatih Toni Pogacnik ini sudah banyak menangani tim nasional Indonesia pada rentang waktu 1966 - 1970. tepat setelah Pogacnik resmi lepas jabatan sebagai pelatih kepala.

Semasa menukangi skuat Garuda, sejumlah prestasi yang tidak kalah apik ditorehkan oleh Mangindaan. Bersamanya, Indonesia dibawa lolos ke perempat-final Asian Games 1966, menjadi juara di ajang Kings Cup Thailand 1968 dan runner-up di tahun berikutnya.

Pencapaiannya pun tentu saja sudah terbilang sangat luar biasa, pasalnya pria yang berasal dari Sulawesi Utara itu merupakan pelatih lokal pertama bagi tim nasional.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau, maka nama stadion di daerah Amurang, Minahasa Selatan diberi nama Opa Mangindaan.

Pria yang pernah menjadi asisten pelatih Toni Pogacnik tersebut menangani tim nasional Indonesia pada rentang waktu 1966-1970. Ya, tepat setelah Pogacnik resmi lepas jabatan sebagai pelatih kepala. Semasa menukangi skuat Garuda, sejumlah prestasi yang tak kalah apik ditorehkan oleh Mangindaan. Bersamanya, Indonesia dibawa lolos ke perempat-final Asian Games 1966, menjadi juara di ajang Kings Cup Thailand 1968 dan runner-up di tahun berikutnya. Pencapaian tersebut tentu terbilang luar biasa, pasalnya pria yang berasal dari Sulawesi Utara itu merupakan pelatih lokal pertama bagi tim nasional. Sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau, maka nama stadion di daerah Amurang, Minahasa Selatan diberi nama Opa Mangindaan.


10). Penunjukkan Alfred Riedl sebagai juru racik tim nasional dilatarbelakangi keberhasilannya membawa timnas Vietnam lolos pertama kalinya ke babak perempat-final Piala Asia 2007. Bersamanya, Indonesia (lagi-lagi) hampir menjadi juara di ajang Piala AFF 2010.

Performa gemilang tim nasional saat itu berhasil melumat habis lawan-lawan yang dihadapi, termasuk tim Filipina di babak semifinal.

Namun, hasil apik tersebut tidak mampu dilanjutkan ketika bersua musuh bebuyutan di babak final. Akibat kesombongan para pemain - Riedl sempat kesal karena pemainnya lebih banyak berperan sebagai public figure - skuat Garuda akhirnya menyerah 0 - 3 pada leg pertama di Stadion Bukit Jalil.

Meski membalas dengan kemenangan 2 - 1 di Stadion Gelora Bung Karno, namun tetap saja Indonesia kalah agregat 2 - 4 dan kembali mengubur impian untuk menjadi jawara di Piala AFF.

Penunjukkan Alfred Riedl sebagai juru racik tim nasional dilatarbelakangi keberhasilannya membawa timnas Vietnam lolos pertama kalinya ke babak perempat-final Piala Asia 2007. Bersamanya, Indonesia (lagi-lagi) hampir menjadi juara di ajang Piala AFF 2010. Performa gemilang tim nasional saat itu berhasil melumat habis lawan-lawan yang dihadapi, termasuk tim Filipina di babak semifinal. Namun, hasil apik tersebut tak mampu dilanjutkan ketika bersua musuh bebuyutan di babak final. Akibat kesombongan para pemain - Riedl sempat kesal karena pemainnya lebih banyak berperan sebagai public figure - skuat Garuda akhirnya menyerah 0-3 pada leg pertama di Stadion Bukit Jalil. Meski membalas dengan kemenangan 2-1 di Stadion Gelora Bung Karno, namun tetap saja Indonesia kalah agregat 2-4 dan kembali mengubur impian untuk menjadi jawara di Piala AFF. Akun line@ seputar timnas nasional dan sepakbola indonesia https://line.me/R/ti/p/@pff3708o
https://line.me/R/ti/p/@pff3708o
https://line.me/R/ti/p/@pff3708o

Post Comment