Latin Brides for Marriage

Thursday, December 21, 2017

Kabareskrim Tunggulah Kejagung Berkaitan Berkas Masalah Kondensat

Kabareskrim Tunggulah Kejagung Berkaitan Berkas Masalah Kondensat

http://mantappoker.com/app/Default0.aspx?lang=id

Kepala Tubuh Reserse Kriminil (Bareskrim) Polri Komjen Ari Dono Sukmanto menyebutkan, pihaknya masih tetap menanti Kejaksaan Agung berkaitan berkas perkara sangkaan korupsi penjualan kondensat punya negara pada PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI) dengan BP Migas.

Dia mengharapkan, jaksa dapat selekasnya menyebutkan berkas perkara kondensat itu lengkap atau P21.

" Kami tunggulah saja, semoga telah dipandang cukup, " kata Ari di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (21/12/2017).

Berkas perkara masalah itu sudah disusun oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi serta Spesial Bareskrim Polri serta telah empat kali dilimpahkan ke Kejaksaan Agung. Tetapi, berkas itu belum juga dinyatakan lengkap oleh Kejagung.

Terlebih dulu, masalah sangkaan korupsi penjualan kondensat punya negara pada PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI) serta BP Migas mandek di Kejaksaan Agung lebih dari dua th.. Walau sebenarnya, berkas perkara yang sudah disusun oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi serta Spesial Bareskrim Polri sudah empat kali dilimpahkan. Tetapi, berkas itu belum juga dinyatakan lengkap oleh Kejagung.

Kepala Biro Penerangan Orang-orang Divisi Humas Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal dalam info tertulis, Selasa 19 Desember 2017, menyebutkan penyidik sudah merampungkan berkas perkara PT TPPI/Kondensat dengan men-splitsing jadi dua berkas perkara, yakni berkas perkara dengan tersangka Raden Priyono serta Djoko Harsono dan berkas perkara dengan tersangka Honggo Wendratno.

Mulai sejak Mei 2015, penyidik Bareskrim Polri telah mengambil keputusan tiga tersangka atas masalah kondensat ini. Mereka yaitu bekas Kepala BP Migas Raden Priyono, bekas Deputi Finansial Ekonomi serta Pemasaran BP Migas Djoko Harsono, serta eks Direktur Paling utama TPPI Honggo Wendratno.

Namun yang telah ditahan penyidik cuma Raden Priyono serta Djoko Harsono. Sesaat Honggo Wendratno belum juga ditahan karna melakukan perawatan pascaoperasi jantung di Singapura.

Berkas kondensat itu, kata Ari, masih tetap di teliti oleh jaksa mulai sejak Selasa 19 Desember 2017 lantas dilimpahkan ke Kejagung.

" Saat ini berkas perkara berada di di kejaksaan tetap dalam kontrol, " ucap Ari.

Bersamaan berjalannya masalah itu, penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi serta Spesial Bareskrim Polri sudah mengantongi angka kerugian negara atas masalah itu.

Kasubdit Tindak Pidana Pencucian Uang saat itu dijabat Kombes Golkar Pangarso memaparkan jumlah kerugian negara atas masalah itu. Dari hasil perhitungan kerugian negara (PKN) yang dikerjakan Tubuh Pemeriksa Keuangan (BPK), di ketahui kerugian negara atas masalah itu sebesar US$ 2, 7 miliar atau sama dengan Rp 38 triliun.

" Jumat minggu tempo hari kami terima. Perkara korupsi itu, bila mengacu pada PKN BPK, sudah merugikan negara sebesar US$ 2, 7 miliar atau bila dengan nilai ganti sekarang ini sebesar Rp 38 triliun, " kata Golkar waktu dihubungi di Jakarta, Senin 25 Januari 2016 yang lalu.

Post Comment