Latin Brides for Marriage

Sunday, September 4, 2016

Sukses di Bantul dan Sleman, Nyamuk Ber-Wolbachia Juga Dilepas di Kota Yogyakarta

Sukses di Bantul dan Sleman, Nyamuk Ber-Wolbachia Juga Dilepas di Kota Yogyakarta
Sukses di Bantul dan Sleman, Nyamuk Ber-Wolbachia Juga Dilepas di Kota Yogyakarta
Berita Kesehatan Terpercaya by PAGI ASIA - Pada Penelitian Eliminate Dengue Program atau disingkat EDP, menggunakan nyamuk ber-Wolbachia sukses dilaksanakan di Sleman dan Bantul. Pada tahap ketiga, penelitian dilaksanakan di kota besar yaitu di Yogyakarta.

Prof Adi Utarini sebagai Penelitia utama EDP dari Universitas Gadjah Mada mengatakan penelitian yang ada di Sleman dan Bantul mengincar daerah yang jumlah penduduknya sedikit atau tidak terlalu banyak. 

Penelitian pada tahap ketiga ini dilaksanakan di Yogyakarta berguna agar dapat melihat efektivitas dan pengaruh dari nyamuk ber-Wolbachia untuk mendalami kasus terjadinya demam berdarah dengue (DBD).

"Karena Sleman dan Baitul yang kami datangi ini penduduknya sangat sedikit dan tidak sampai 200an orang, membuat kami kesulitan untuk melihat efektivitasnya. Jadi bisa saja penduduk yang mengalami DBD terserang di tempat lain."kata Prof Uut dalam wawancara di Gedung Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta Pusat lalu.

Baca juga : 2 Senpi Aa Gatot Brajamusti Didapatkan dari AS, Eks Pejabat BPPN

Peletakan telur nyamuk ber-Wolbachia ini sudah dilaksanakan hari Rabu, 31 agustus lalu di Yogyakarta. Prof Uut menjelaskan sudah terdapat 700 ember yang berisi telur nyamuk ber-Wolbachia yang diletakkan, pada satu ember kurang lebih ada 100 telur dan termasuk 5-10 di rumah penduduk.

Ia juga menerangkan beberapa perbedaan terhadap penelitian yang dilakukan di Yogyakarta dibandingkan dengan di Bantul dan di Sleman, di Sleman nyamuk yang dibebaskan adalah nyamuk dewasa. Hal ini kurang efektif karena menimbulkan rasa tidak nyaman yang dikarenakan jumlah nyamuk nya terlalu banyak menjadi semakin banyak.

Untuk megatasi hal tersebut, para peneliti mengubah cara di Baitul dengan menaruh telur nyamuk ini dalam ember. Peletakkan hanya dilakukan selama 10 sampai 12 kali dengan jangka waktu 2 minggu. Khusus nya untuk Yogyakarta dengan metode yang sama hanya saja waktu yang dilakukan dipersingkat jadi 8 kali saja.

"karena telur nyamuk ini tidak menetas bersamaan, di Yogyakata waktu penerapan nya kita persingkat lagi menjadi 8 kali hanya untuk memudahkan masyarakat saja, jika waktunya dipersingkat dan yang dihasilkan sudah optimal , mengapa tidak dicoba? hanya itu alasan kami."lanjut nya.

Dan untuk kedepannya, penelitian ini juga akan dilakukan di tempat kota besar lainnya di Indonesia yang mempunyai julah kasus DBD yang tinggi. seperti kota Jakarta, Surabaya dan juga provinsi Bali yang menjadi target untuk penelitian selanjutnya.

"Di jogja waktu penelitian kita sampai tahun 2019, setelah hasil kebenaran penelitian ini keluar, maka kita akan coba ke kota besar lainnya seperti kota Jakarta, Surabaya dan Bali."kata Prof Uut.

Post Comment