Latin Brides for Marriage

Wednesday, September 28, 2016

Praktik Seperti Dimas Kanjeng Banyak Terjadi di Indonesia kata Psikolog Sosial

Praktik Seperti Dimas Kanjeng Banyak Terjadi di Indonesia kata Psikolog Sosial
Praktik Seperti Dimas Kanjeng Banyak Terjadi di Indonesia kata Psikolog Sosial

Praktik Seperti Dimas Kanjeng Banyak Terjadi di Indonesia kata Psikolog Sosial

Berita Terlengkap Dan Terpercaya By PAGIASIA - Praktik Taat Pribadi ini sangat banyak terjadi di Indonesia. Salah satunya Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang sudah mempunyai ratusan bahkan sampai ribuan pengikutnya dan disebut-sebut kalau dia dapat menggandakan uang dengan ganpang.

Ahmad Chusairi sebagai Psikolog Sosial Universitas Airlangga menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menjadi penyebab banyak diburunya pratik seperti ini oleh Masyarakat Indonesia adalah mereka terpengaruh dengan bujukan menjadi kaya dalam waktu singkat.

"Sangat banyak yang semacam itu di Indonesia dan banyak faktor-faktor yang menjadi penyababnya. Contohnya bagaimana  bisa menggandakan uang atau bagaimana caranya untuk menambah keuntungan dalam waktu yang singkat,"kata Chusairi pada hari Selasa, 27 September 2016 tadi malam.

Masih ada banyak bagi para masyarakat Indonesia mempercayai dan berfikir irasional atau dilaur akal sehat kata Chusairi menjelaskan. Oleh karena itulah, hanya dengan diberikan bujukan palsu dalam waktu singkat hal tersebut langsung dapat di terima oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat Indonesia masih banyak yang berpegang dengan nilai-nilai tradisional yang berbau akan hal mistik.


"Begitu banyak sekali penduduk Indonesia yang masih berfikir tidak masuk akal menginginkan yang praktis saja. Seharusnya di zaman seperti sekarang ini masyarakat harus berpikir rasional. Karena penduduk kita masih saja bertumpu pada nilai-nilai tradisional, seperti sesuatu yang berbau mistik,"ujarnya.

Chusairi juga mengkritik kalau Masyarakat Indonesia banyak yang berpikir siapa yang mempunyai kelebihan patut menjadi seorang pemimpin. Walaupun kelebihan tersebut tidak terbukti akan kebenarannya.

"Masyarakat Indonesia itu bersifat kolektif dan selalu merasa ada orang lain yang mempunyai kelebihan, lalu disebut sebagai pemimpin yang mempunyai ilmu atau memiliki akal lebih banyak, berwibawa, keturunan bangsawan," ucapnya.

"Itulah yang membuat masyarakat kita ini masih mempercayai hal tidak masuk akal bahkan sampai menjadi pengikut hal yang tidak masuk akal tersebut. Kebanyakan hal tersebut terjadi pada daerah-daerah sampai di wilayah kota walaupun kejadian ini mulai mengecil jumlahnya, lalu menyimpang ke masyarakat kelas sosial menengah kebawah. Jadi kalau terdapat pejabat atau orang pintar yang terkena, itu dikarenakan pandangan hidup yang ada di masyarakat,"lanjutnya.

Menurut Chusairi, kejadian ini juga dapat dikarenakan tingkat kemajuan dan pendidikan terhadap masyarakat yang masih belum sepenuhnya merata. "Hal seperti ini banyak terjadi karena tingkat kemajuan pada masyarakat yang masih belum merata dan kemungkinan dampak yang akan terjadi dari fenomena ini akan terus terjadi,"tutupnya.

Post Comment